LENTERAINFO.ONLINE|Kabupaten Bekasi – Di tengah pesatnya pembangunan dan geliat industri, masih terselip potret buram kehidupan masyarakat di pelosok daerah. Salah satunya dialami Ranih (63), warga Kampung Tambun RT 012/004, Desa Karangharja, Kecamatan Pebayuran, yang harus menerima kenyataan pahit setelah rumahnya porak-poranda akibat terjangan angin kencang pada Jumat dini hari sekitar pukul 04.30 WIB.
Rumah sederhana yang selama ini menjadi tempat berteduh itu kini nyaris tak layak huni. Atap beterbangan, dinding rusak, dan barang-barang di dalamnya berserakan. Kondisi tersebut menggambarkan kerasnya dampak cuaca ekstrem yang melanda wilayah tersebut.
Peristiwa ini bukan sekadar bencana biasa, tetapi menjadi cerminan nyata masih adanya warga yang hidup dalam kondisi rentan tanpa perlindungan hunian yang layak. Di usia senja, Ranih justru harus menghadapi ujian berat kehilangan tempat tinggal.
Yang lebih miris lagi, Ranih tinggal bersama empat orang cucunya, termasuk seorang anak yatim yang turut terdampak dalam peristiwa tersebut. Dalam kondisi rumah yang kini tidak layak huni, ia harus tetap memikirkan keselamatan serta kebutuhan hidup cucu-cucunya di tengah keterbatasan.
Warga sekitar dengan sigap membantu membersihkan puing-puing dan memberikan pertolongan seadanya. Namun, bantuan dari masyarakat tentu belum cukup untuk memulihkan kondisi rumah secara keseluruhan.
Sementara itu, Ranih menceritakan kronologis kejadian yang menimpa rumahnya. Ia mengaku saat kejadian tengah berada di dalam rumah ketika tiba-tiba angin kencang datang secara mendadak.
“Sekitar jam setengah lima pagi, angin tiba-tiba kencang sekali. Atap rumah mulai bergetar, lalu sebagian langsung terbang. Saya panik dan langsung keluar rumah untuk menyelamatkan diri,” ujar Ranih dengan nada lirih.
Ia menambahkan, dalam hitungan menit kondisi rumahnya sudah tidak lagi seperti semula. Beberapa bagian bangunan roboh dan barang-barang di dalam rumah ikut rusak akibat tertimpa material.
“Tidak lama kemudian warga datang membantu. Saya sangat bersyukur tidak ada korban jiwa, tapi sekarang rumah sudah tidak bisa ditempati,” tambahnya.
Dirinya berharap kepada Pemerintah Desa Karangharja dan Pemerintah Kabupaten Bekasi agar dapat segera memberikan perhatian dan bantuan nyata atas musibah yang dialaminya.
“Saya berharap ada bantuan dari pemerintah untuk memperbaiki rumah saya, karena sekarang sudah tidak layak ditempati. Saya juga memohon perhatian untuk kebutuhan sehari-hari kami,” harapnya.
Sementara itu, Kepala Desa Karangharja, Sukarma yang akrab disapa Abah Heru, mengatakan bahwa pihak pemerintah desa telah menerima laporan terkait kejadian tersebut dan langsung meninjau lokasi.
“Kami sudah mendapatkan informasi dan langsung turun ke lokasi. Sebagai bentuk kepedulian awal, kami juga telah memberikan bantuan sembako kepada korban,” ujar Abah Heru.
Ia menambahkan bahwa pihaknya akan terus berkoordinasi dengan instansi terkait agar korban segera mendapatkan bantuan perbaikan rumah.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa di balik gemerlap pembangunan Kabupaten Bekasi, masih ada potret buram kehidupan masyarakat yang membutuhkan kepedulian dan aksi nyata dari semua pihak.






