LENTERAINFO.ONLINE|Kabupaten Bekasi – Desa Bojongsari, Kecamatan Kedungwaringin, Kabupaten Bekasi, menjadi wilayah terdampak paling parah akibat luapan Sungai Citarum dan Sungai Cibeet. Banjir yang terjadi tiga kali berturut-turut merendam permukiman warga di Kampung Bojong Dusun 1, Dusun 2, dan Dusun 3, dengan ketinggian air mencapai 20 hingga 120 sentimeter.
Sedikitnya 1.250 kepala keluarga (KK) yang tersebar di 11 RT terdampak langsung akibat bencana tersebut. Genangan air yang bertahan cukup lama membuat aktivitas warga lumpuh total, mulai dari kegiatan ekonomi hingga aktivitas sosial sehari-hari.
Untuk menghindari risiko keselamatan, sebagian warga terpaksa meninggalkan rumah dan mengungsi ke sejumlah titik aman, di antaranya Kantor Kecamatan Kedungwaringin, Aula PGRI, Stasiun Kedunggedeh, serta beberapa tempat ibadah di sekitar wilayah terdampak. Sementara itu, Kantor Desa Bojongsari dialihfungsikan menjadi dapur umum darurat guna memenuhi kebutuhan konsumsi warga terdampak.
Selain merendam permukiman, banjir berulang juga menyebabkan kerusakan bangunan warga. Satu unit rumah warga dilaporkan roboh akibat tidak mampu menahan terjangan air yang terjadi secara terus-menerus. Peristiwa tersebut terjadi di RT 04/RW 04, Desa Bojongsari.
Kepala Desa Bojongsari, Mulyana, SM., S.Pd, membenarkan kejadian tersebut. Ia menyebut rumah yang roboh merupakan milik Bapak Adih, warga setempat.
“Banjir ini terjadi tiga kali berturut-turut. Akibatnya, ada rumah warga yang roboh di Bojongsari RT 04/04 atas nama Bapak Adih. Kondisi warga sangat terdampak dan banyak aktivitas tidak bisa berjalan normal,” ujar Mulyana, Sabtu (31/1).
Pemerintah Desa Bojongsari berharap adanya langkah cepat dan penanganan jangka panjang dari pemerintah daerah dan instansi terkait, khususnya dalam pengendalian luapan Sungai Citarum dan Sungai Cibeet, agar banjir yang terus berulang tidak kembali menimbulkan kerugian dan ancaman keselamatan bagi masyarakat.






