LENTERAINFO.ONLINE|Kabupaten Bekasi — Setiap kali hujan deras mengguyur, Gang Poncol di Desa Karang Segar seolah memiliki “ritual” yang sama: air naik, jalan tenggelam, aktivitas lumpuh. Pada Selasa (23/02/2026), genangan air berwarna cokelat keruh kembali menutup sebagian besar badan jalan hingga merambat ke depan pagar rumah warga. Akses lingkungan yang menjadi urat nadi pergerakan masyarakat berubah menjadi kubangan panjang yang licin dan membahayakan.
Pantauan di lokasi menunjukkan air tidak sekadar melintas, melainkan mengendap dan bertahan cukup lama setelah hujan berhenti. Kondisi ini memunculkan pertanyaan serius mengenai fungsi dan kapasitas drainase di wilayah tersebut. Saluran air yang seharusnya menjadi jalur pembuangan justru terlihat tidak mampu mengalirkan debit air secara cepat dan efektif.
Warga menyebut, genangan di Gang Poncol bukan kejadian insidental, melainkan masalah berulang yang terjadi hampir setiap hujan deras turun. “Setiap hujan deras pasti begini. Air cepat naik, tapi surutnya lama sekali. Kadang sampai berjam-jam. Kami sudah sering berharap ada perbaikan, tapi kondisinya masih sama,” ungkap salah satu warga dengan nada kecewa.
Dampaknya nyata. Pengendara roda dua harus memperlambat laju kendaraan untuk menghindari terpeleset atau mogok akibat knalpot terendam. Pejalan kaki terpaksa berjalan di sisi jalan yang sempit dan becek. Anak-anak yang hendak berangkat atau pulang sekolah pun harus ekstra hati-hati agar tidak terjatuh di permukaan jalan yang licin.
Lebih jauh, genangan air yang terjadi berulang kali berpotensi mempercepat kerusakan infrastruktur jalan. Air yang terus menggenang dapat meresap ke lapisan aspal, memicu retakan, dan pada akhirnya menciptakan lubang. Jika dibiarkan, kerusakan kecil akan berkembang menjadi persoalan besar yang membutuhkan biaya perbaikan lebih tinggi.
Aspek kesehatan juga menjadi kekhawatiran tersendiri. Air yang mengendap dalam waktu lama berpotensi menjadi sarang jentik nyamuk. Dalam kondisi cuaca yang tak menentu, lingkungan yang tergenang berisiko meningkatkan potensi penyakit berbasis lingkungan, terutama di kawasan padat penduduk.
Warga Gang Poncol kini menilai persoalan ini tak cukup lagi disikapi sebagai dampak alam semata. Curah hujan tinggi memang menjadi faktor, namun sistem drainase yang tidak optimal dinilai sebagai akar persoalan yang harus segera dibenahi. Normalisasi saluran air, pengerukan sedimentasi, hingga evaluasi konstruksi drainase dianggap sebagai langkah konkret yang perlu segera direalisasikan.
Masyarakat Desa Karang Segar berharap pemerintah desa dan instansi terkait tidak menunggu kerusakan semakin parah atau keluhan semakin meluas. Infrastruktur lingkungan adalah kebutuhan dasar, bukan proyek seremonial. Jalan lingkungan yang layak dan bebas genangan bukan kemewahan, melainkan hak warga.
Kini, pertanyaannya sederhana: sampai kapan Gang Poncol harus “berendam” setiap kali hujan turun? Warga menunggu bukan sekadar respons, tetapi tindakan nyata yang terukur dan berkelanjutan. Sebab bagi mereka, genangan air bukan hanya soal kubangan, melainkan simbol dari persoalan yang tak kunjung dituntaskan.
