LENTERAINFO.ONLINE|Jakarta – Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Asosiasi Keluarga Pers Indonesia (DPP AKPERSI), Rino Triyono, S.Kom., S.H., C.IJ., C.BJ., C.EJ., C.F.L.E., C.IKJ., menyoroti maraknya pemberitaan sejumlah media internasional yang menggambarkan kondisi ekonomi Indonesia dalam perspektif yang cenderung pesimistis dan berpotensi memengaruhi persepsi investor global terhadap Indonesia.
Pernyataan tersebut disampaikan menyusul munculnya berbagai laporan media internasional berbasis Singapura yang secara intens mengulas pelemahan rupiah, tekanan di pasar saham, hingga menurunnya tingkat kepercayaan investor terhadap arah kebijakan ekonomi nasional.
Menurut Rino Triyono, kebebasan pers merupakan prinsip universal yang harus dihormati dalam negara demokratis. Namun, ia mengingatkan bahwa masyarakat Indonesia juga harus memiliki literasi informasi yang kuat agar tidak mudah terpengaruh oleh narasi yang berpotensi membentuk persepsi negatif terhadap bangsa dan negara.
“Kita menghormati kebebasan pers dan hak setiap media untuk melakukan analisis. Tetapi ketika Indonesia terus-menerus diposisikan sebagai objek pemberitaan yang bernuansa negatif, publik berhak mempertanyakan apakah yang sedang terjadi murni analisis ekonomi atau sudah mengarah pada pembentukan persepsi global yang dapat memengaruhi kepercayaan pasar terhadap Indonesia,” tegas Rino.
Sorotan tersebut mengemuka setelah media Singapura The Straits Times menerbitkan laporan berjudul “Sell Indonesia Sweeps Trading Desks as Prabowo Tightens Grip” yang menggambarkan meningkatnya aksi jual aset Indonesia oleh investor global akibat kekhawatiran terhadap arah kebijakan ekonomi dan fiskal pemerintah.
Dalam laporan itu disebutkan bahwa rupiah menjadi salah satu mata uang dengan kinerja terlemah di kawasan Asia, sementara investor asing disebut telah menarik dana dalam jumlah besar dari pasar obligasi Indonesia.
Narasi serupa juga muncul dalam laporan The Business Times yang menyoroti meningkatnya kekhawatiran investor terhadap berbagai kebijakan ekonomi yang dinilai semakin intervensif dan berdampak terhadap persepsi risiko investasi di Indonesia.
Sementara itu, laporan Reuters yang ditulis dari Singapura dan London menyebut sejumlah kebijakan ekonomi pemerintah memunculkan kekhawatiran pasar yang kemudian memberikan tekanan terhadap nilai tukar rupiah dan pasar keuangan nasional. Bahkan, laporan tersebut memperingatkan potensi terbentuknya “doom loop” atau lingkaran tekanan yang dapat memperburuk sentimen investor apabila kepercayaan pasar terus melemah.
Di tengah situasi tersebut, Bank Indonesia sempat mengambil langkah stabilisasi dengan menaikkan suku bunga acuan di luar jadwal reguler sebagai upaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah yang mengalami tekanan terhadap dolar Amerika Serikat.
Meski demikian, Rino menegaskan bahwa bangsa Indonesia tidak boleh kehilangan optimisme hanya karena derasnya narasi negatif dari luar negeri.
“Indonesia memiliki fondasi ekonomi yang kuat. Kita memiliki pasar domestik yang besar, sumber daya alam yang melimpah, posisi strategis dalam rantai pasok global, serta bonus demografi yang menjadi kekuatan besar bagi pertumbuhan ekonomi jangka panjang,” ujarnya.
Dalam perspektif geopolitik, Rino menilai masyarakat perlu memahami bahwa berbagai pusat informasi dan keuangan internasional memiliki kepentingan dan sudut pandang masing-masing dalam membaca perkembangan ekonomi suatu negara.
“Setiap laporan internasional harus dibaca secara kritis, objektif, dan proporsional. Jangan sampai kritik yang seharusnya menjadi bahan evaluasi justru diterima mentah-mentah hingga menimbulkan pesimisme nasional. Bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu melakukan koreksi tanpa kehilangan kepercayaan diri,” katanya.
Meski memberikan kritik terhadap sejumlah narasi internasional, Rino menegaskan bahwa Indonesia tetap menghormati Singapura sebagai negara sahabat sekaligus mitra strategis di kawasan ASEAN.
“Hubungan Indonesia dan Singapura harus tetap dibangun di atas prinsip saling menghormati, saling menguntungkan, dan menghargai kedaulatan masing-masing negara. Kritik terhadap sebuah narasi media tidak boleh dimaknai sebagai kritik terhadap hubungan bilateral kedua negara,” jelasnya.
Lebih lanjut, DPP AKPERSI mengajak seluruh elemen bangsa untuk memperkuat ketahanan ekonomi nasional, meningkatkan produktivitas sektor riil, menjaga stabilitas sosial, serta memperkuat literasi informasi di tengah derasnya arus pemberitaan global yang semakin kompetitif.
Menurutnya, tantangan ekonomi global saat ini bukan hanya soal angka dan indikator makroekonomi, tetapi juga menyangkut perang persepsi yang dapat memengaruhi kepercayaan investor maupun psikologi publik.
“Jangan sampai rakyat Indonesia kehilangan optimisme karena bombardir narasi negatif. Bangsa ini telah berkali-kali menghadapi krisis dan selalu mampu bangkit. Yang dibutuhkan hari ini adalah persatuan nasional, ketahanan ekonomi, dan keyakinan bahwa Indonesia mampu menentukan masa depannya sendiri,” tegasnya.
Sebagai organisasi pers, DPP AKPERSI juga mengajak media nasional untuk tetap menjalankan fungsi jurnalistik secara profesional, independen, berimbang, dan berpihak pada kepentingan publik.
“Indonesia adalah negara berdaulat. Kita menghormati seluruh negara dan seluruh media internasional, tetapi kepentingan nasional, kedaulatan ekonomi, serta keutuhan NKRI harus tetap menjadi prioritas utama. Jangan biarkan bangsa ini dilemahkan oleh perang persepsi yang dapat mengikis kepercayaan rakyat terhadap negaranya sendiri,” pungkas Rino Triyono.
