LENTERAINFO.ONLINE|Kabupaten Bekasi – Di balik geliat pembangunan dan berbagai program pengentasan kemiskinan, potret buram kemiskinan masih nyata terlihat di Kabupaten Bekasi. Seorang janda bernama Datih, warga Kampung Mareleng, RT 004/RW 007, Desa Bojongsari, Kecamatan Kedungwaringin, harus bertahan hidup di sebuah rumah yang kondisinya memprihatinkan dan nyaris roboh. Lebih memprihatinkan lagi, di tengah perjuangannya melawan penyakit stroke, ia dikabarkan belum pernah menerima bantuan perbaikan rumah maupun bantuan sosial lainnya.
Rumah yang telah lapuk dimakan usia itu sudah jauh dari kata layak huni. Atap mengalami kerusakan di sejumlah bagian, sementara tiang penyangga dan rangka bangunan terlihat rapuh. Setiap hujan deras disertai angin kencang, rasa khawatir akan ambruknya rumah selalu menghantui penghuni. Kondisi tersebut tidak hanya menggambarkan keterbatasan ekonomi, tetapi juga menjadi ancaman nyata bagi keselamatan Datih yang hidup seorang diri dengan kondisi kesehatan yang terus menurun akibat stroke.
Berdasarkan keterangan keluarga dan warga sekitar, hingga saat ini Datih belum pernah mendapatkan bantuan melalui program Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu). Padahal, kondisi ekonomi, kesehatan, dan tempat tinggalnya dinilai memenuhi kriteria sebagai warga yang layak diprioritaskan dalam program bantuan pemerintah.
Ironisnya, kondisi tersebut masih ditemukan di saat Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, terus menekankan percepatan penanganan Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu) sebagai salah satu program prioritas Pemerintah Provinsi Jawa Barat dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Fakta di lapangan menunjukkan masih adanya warga yang tinggal di rumah dengan kondisi membahayakan dan membutuhkan penanganan segera. Kondisi Datih menjadi cerminan bahwa proses pendataan, verifikasi, dan penyaluran bantuan perlu terus diperkuat agar program tersebut benar-benar menjangkau masyarakat yang paling membutuhkan.
Keprihatinan atas kondisi Datih juga disampaikan warga sekitar. Mereka berharap Pemerintah Desa Bojongsari, Pemerintah Kabupaten Bekasi, hingga Pemerintah Provinsi Jawa Barat segera melakukan peninjauan langsung dan memproses usulan bantuan Rutilahu sebelum terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
“Rumah ini sudah sangat mengkhawatirkan. Jangan sampai pemerintah baru bergerak setelah terjadi musibah. Keselamatan warga harus menjadi prioritas,” ujar salah seorang warga.
Program Rutilahu sejatinya merupakan wujud komitmen pemerintah untuk memastikan masyarakat berpenghasilan rendah memiliki tempat tinggal yang layak, aman, dan sehat. Karena itu, warga berharap program tersebut benar-benar menyentuh masyarakat yang hidup dalam kondisi paling rentan, seperti yang dialami Datih.
Selain mengharapkan perhatian pemerintah, warga juga mengajak perusahaan melalui program Corporate Social Responsibility (CSR), organisasi kemasyarakatan, lembaga sosial, serta para dermawan untuk ikut bergotong royong membantu meringankan beban Datih agar dapat menempati rumah yang layak dan aman.
Kisah Datih menjadi pengingat bahwa di balik pembangunan yang terus berjalan, masih ada masyarakat yang hidup dalam keterbatasan dan membutuhkan kehadiran negara. Harapan kini tertuju pada langkah cepat seluruh pihak agar pendataan, verifikasi, dan realisasi bantuan dapat segera dilakukan, sehingga Datih tidak lagi hidup dalam ancaman rumah yang sewaktu-waktu dapat roboh.
